Bakteri E. sakazakii pada Susu Penyebab Kematian pada Bayi

Bakteri E. sakazakii pada Susu Penyebab Kematian  pada Bayi

Hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Tri Yahya Budiarso dari Universitas Kristen Duta Wacana, Yogyakarta menyatakan bahwa Enterobacter sakazakii adalah bakteri patogen penyebab infeksi seperti necrotizing enterocolitis, bacteremia, dan meningitis yang banyak ditemukan karena mengkonsumsi susu formula bayi. Sumber kontaminasinya diduga kuat berasal dari susu mentah.  Dari 80 sampel susu ditemukan 9 E.sakazakii berdasarkan hasil pengujian positip α-glukosidase pada medium DFI Agar dan hasil identifikasi secara biokimia dan molekuler diperoleh 5 isolat yang positip E.sakazakii dari sampel yang berbeda dan 4 isolat lainnya teridentifikasi sebagai Panthoea spp1. Tingkat kematiannya mulai dari 33 – 80% telah dilaporkan untuk pasien yang terinfeksi (Lai et al., 2001; Yan et al., 2012). Kasus kematian bayi dari berbagai negara dari tahun 1958-2004 karena mengkonsusmsi susu formula yang terkontaminasi E. sakazakii selalu terjadi (Quinn et al., 2009). Selain susu bayi kasus kontaminasi juga ditemukan pada berbagai produk pangan, minuman, produk cereal dan cereal bayi, tepung gandum, rempah-rempah, sayuran dan buah-buahan (Jaradat et al., 2009; Lou et al., 2014). Susu mentah dan produk susu segar di DIY berasal dari kelompok peternak yang sebagian besar proses pemerahannya bersifat tradisional menggunakan tangan. Enterobacter sakazakii sebagai anggota famili Enterobacteriaceae mempunyai habitat alami pada saluran pencernaan sapi perah. Namun demikian beberapa juga ditemukan pada tanah, air, pakan dan kotoran yang berasal dari saluran usus sapi.  Produk susu mentah maupun susu segar mudah terkontminasi E.sakazakii selama proses pemerahan susu. Sanitasi kandang dan kebersihan pekerja yang masih buruk, peralatan yang digunakan dan tempat penyimpanan sangat memungkinkan susu mentah dan  susu segar di DIY terkontaminasi E.sakazakii. Enterobacter sakazakii adalah bakteri Gram negatif bentuk batang anggota dari famili Enterobacteriaceae, genus Enterobacter. Pada awalnya bakteri ini dikenal sebagai “yellowpigmented cloacae,” yang telah direklasifikasi menjadi E.sakazakii tahun 1980 berdasarkan pada perbedaan reaksi biokimia, produksi pigmen, DNA-DNA hibridisasi dan kerentanannya terhadap antibiotik dibandingkan dengan Enterobacter cloacae (Farmer et al., 1980). Selanjutnya diusulkan kembali menjadi genus baru Cronobacter berdasarkan hasil analisis profil DNA melalui pengujian Ribotyping dan Amplification fragment length polymorphism (AFLP) yang mampu membedakan pada tingkat spesies dan subspesies (Iversen, 2007; 2008).

Kabupaten Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memiliki sentra peternakan sapi perah yang menghasilkan susu mentah untuk disetorkan ke pabrik dan diolah menjadi produk susu segar oleh pedagang kaki lima (PKL) dan café-café. Susu segar sangat diminati oleh sebagaian besar penduduk Yogyakarta terutama pelajar dan mahasiswa. Susu sapi mengandung nutrisi yang tinggi seperti : lemak, protein (casein, whey), karbohidrat (laktosa), asam amino, minerals terutama calcium yang sangat dibutuhkan tubuh untuk pertumbuhan. Namun kandungan nutrisi yang tinggi juga sangat baik untuk pertumbuhan mikrobia pembusuk dan patogen (Haug et al., 2007; Lehner et al., 2006). Beberapa bakteri yang sering ditemukan pada susu mentah diantaranya : Esherichia coli, Staphylococcus, Listeria, Camphylobacter, Salmonella (Hill  et al., 2012).

https://jurnal.ugm.ac.id/jsv/article/view/27565

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.